Memaknai Cinta dalam perspektif sahabat

Oleh: Misbahul Munir
               
Siapa yang tak mendengar  term ‘cinta
, dalam konteks mutaakhir, anak SD ingusan pasti tau bila ditanya cinta, karena cinta adalah teman sekelasnya,hehehe... Tetapi benar,banyak orang sudah tau tentang istilah ‘cinta’ walaupun ia tak tau hakikat cinta. Anak kecil yang masih belum masuk ke lembaga pendidikan juga sudah banyak yang tau pula. Mengapa demikian. Ada banyak hal yang membuat mereka paham akan cinta, salahsatunya media massa. Media sangat memberikan pengaruh untuk kecerdasaan seorang anak, sebab sebagian anak kecil telah mengkonsumi banyak informasi dan hiburan melalui media. Media yang seringkali berpapasan dengan anak  adalah televisi, hand phone dan lain-lain. Barangkali Si anak diajak nonton siaran televisi yang berbau cinta. Dengan lambat laun anak mengerti akan persoalan cinta, walaupun ia belum sekolah. Di sekolah sendiri, ada sekian banyak materi-materi cinta yang tak sengaja di konsumsi oleh siswa, misal anak ­PAUD, ini di bacaapa anak-anak, ibu gurunya menuliskan “Aku cinta ayah, aku sayang ibu, aku kangen mama”semua murid ikut membaca apa yang di tulis ibu gurunya, anak yang asalnya tidak tau itu akhirnya paham perihal cinta.
                Media massa sebagai tonggak pemahaman manusia dalam persoalan cinta, juga memberikan dampak negatif bila tidak mendapatkan pantauan serius oleh orang tua, di media televisi masyaraktat indonesia lebih senang menonton intertainentsebagai hiburan pelepas penat, seperti film horor, gosip, dan lain-lain, yang pada ujungnya hanya menghibur. Setidaknya kita dapat memilih yang tak perlu di konsumsi oleh banyak orang, apalagi anak yang masih di bawah tujuh belas tahun kebawah. Adegan-adegan film yang di mainkan oleh artis seksi dan suka buka-bukaan, hot, lebay dan semacamnya seringkali menjadi langganan kaum muda yang masih baru mengenjak dewasa. kita sebagai komonikan atau konsumtif mungkin pernah menjumpai atau sering melihat beberapa adegan kurang sopan tayang diberbagai media.Kiranya perlu di sadari, hal ini sangat memberikan perngaruh besar terhadap sikap anak, termasuk dalam memahami hakikat cinta.
Banyak di berbagai media, yang menuliskan hasil liputanya tentang seorang belia menjadi korban pelecehan seksual, sodomi, lesbian, dan homo seksual. Oroni sekali melihat kebobrokan bangsa saat ini, yang paling tua tak dapat memberikan contoh  pada yang lebih muda, begitupun juga dengan anak kecil, merekapum sama-sama rusaknya.
Apa itu cinta?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonisia, cinta adalah hubungan antara pria dan wanita berdasarkan kemesraan, tanpa ikatan berdasarkan adat atau hukum yang berlaku. Dari definisi ini penulis lebih mensederhanakan bahwa cinta lebih berkumulasi terhadap “perasaan manusia”, namun perasaan yang bagaimana, setiap manusia punya perasaan, perasaan yang mengarah manusia tertarik pada obykek cinta. Tetapi dalam kehidupan manusia, bila di pertanyakan apa hakikat cinta, orang-orang tidak mau menjawab. Tidak menjawab bukan berarti mereka tidak tau, hanya saja persoalan cinta lebih bersifat relatif-cinta tergantung pada orang yang pernah berpengalaman dalam bercinta. Bisa saja cinta cara makna adalah dinamis, terserah yang merasakan cinta. Bagi penulis term ‘cinta’,kasih, sayang dan suka, sangat berbeda penekanan maknanya. Namun pada titik kulminasi adalah perasaan seseorang. Dalam konteks ini, kita sering kali tertipu dengan satu kata ‘cinta’ , belum dengan frasa ‘cinta sejati’, semakin bingung kita mau mengartikannya. Perlu di perhatikan cinta lahir bukan untuk di cerdrai, sebab cinta itu suci, sebagaimana cinta itu pertama kali diberikan tuhan pada hamba-Nya. Layaknya Nabi Adam dan Siti Hawa yang dipisah jarak cukup jauh, mereka dipertemukan disebabkan cinta keduanya.
Adegium para filsuf menegaskan bahwa mencintai sesuatu karena dicintai, mereka tak ubahnya dengan monyit,  tetapi jika manusia dicintai karena mencintai berarti cinta yang tulus. Lebih gamlangnya lagi menurut budayawan dan seniman asal Jawa Timur Mbah Sujiwo Tejo, mencintai sesutu disebabkan ada alasan ‘kerena’ dan ‘karena’ itu ‘bulsit’, menurutnya. Secara tidak langsung bahwa menusia mencintai sesutu  dengan alasan ‘karena’ ia tak lagi mencintai orang di maksud, ia lebih mencintai ‘karena’ dari pada orangnya.Alasan-alasan yang datang dalam cinta sebaiknya tak dimunculkan kepermukaan, karena alasan tersebut lebih memburamkan nilai-nilai kesucian cinta. Kaum muda saat ini banyak yang tak paham akan makna cinta, cinta dimaknai dengan ketemuan, pegangan tangan, ciuman, jalan bersama, dan menghilangkan keperawanan. Ini yang kerap kali terjadi dalam perkembangan cinta muataakhirin.
Perasaan cinta
                Awalnya saya mimang tidak pernah merasakan apakah itu cinta, hanya hanya adarasa bahwa saya punya perasaan, perasaan itu tak pernah terwujud dalam realitas nyata. Dulu semenjak saya mengenjak Sekolah Menengah Pertama (SMP;MTs) ada seseorang yang tertarik pada saya, tetapi saya menolaknya dengan halus. Sekali lagi bukan say tidak pahan akan makna cinta, saya melihat realitas terjadi saat itu, banyak dari teman-teman saya yang salah mengartikan cinta seperti yang disebut di atas. Perasaan untuk menerima ungkapan teman sekelas itu menbuat berat pikiran untuk meresponnya, saya takut, dampak yang akan terjadi setelah bercinta dengan  orang yang mencintai saya. Teman-teman sering kali menggosip bahwa saya adalah miliknya, karena saya dulu tak mau bercinta, teman menyebutkan bahwa perjalanan seperti itu adalah “cinta bertepuk sebelah tangan”.  Namun ada seseorang yang membuat perasaan ini berbunga-bunga dengan sikap yang di lakukan semasih dia bersama. Setiap hari dia mengerti, mengisi, dan membuat hati terasa ada. Semua yang diinginkan saya selalu di penuhi olehnya, begitupun dangan sikap saya yang di berikan padanya (maaf bukan dia yang aku sebut pertama dia atas). Teman saya yang saling mengisi ini sebut saja “bunga”, bunga yang indah dan harum membuat perasaan tak dapat melupakan sikap yang dia miliki. Saling mengisi itu, saya tak pernah menyerbutkan bahwa dia “pacar”saya, mudahnya ia adalah sahabat terdekat. Perjalanan panjang saya terus lalui sampai saya mondok disalahsatu pesantren di Sumenep, begitu dengan dia.
                Hampir lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA;MA) ada suara bising yang sangat menyayat , saya ditengarai punya hubungan berstatus dengan sahabat. Konflik semakin hari semakin panas, sebab ada banyak dari taman-teman saya yang mencintainya. Seakan-akan dengan keberadaan saya di sampingnya, membuat mereka (yang mengcintai sahabat saya) tidak mudah untuk mendapatkan nya.  Padahal saya tak punya hubungan yang pasti,  kerap kali saya menghadiri acara  saya selalu  mendapatkan ocehan, celetukan, dan sindiran bahwa saya punya hubungan dengannya. Saya sendiri tau siapa yang mau mendapkan hatinya.  Orang-orang yang mencintai sahabat saya itu, malah menjadi sahatab  terdekat saya , tak  usah saya sebut identisanya, 
                Mudus yang semakin hari, semakin berkembang , saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak dalam hati , karena yang tau hubungan saya denannya adalah saya dan dia. Dalam konteks perasaan,  sahabat juga perlu mendapatkan kasih sayang, dicintai, dan di kasihi. Terapi penulis tak mau kasih sayang yang diberikan padanya adalah berbentuk imprialisme dan kolonialisme perasaan terhadap sahabat, cinta sahabat sangat berbeda dengan cinta yang kita pakai dalam konteks pacaran. Semua orang pasti memiliki perasaan, namun perasan yang dibuatnya tidak menebar atau menabur harapan padanya, apalagi dia seorang sahabat.
Butuh waktu
                Salahsatu dari sekian jamak teman saya ada yang sedikit terbuka pada saya. Teman yang satu  ini, jika dalam persoalan cinta sangat mahir, banyak dari cewek yang telah menjadi korban cintanya. Putus nyambung seakan sudah tidak tabu lagi, tetapi trik apa yang membuat banyak cewek bertekuk lutut dalam cintanya. Seringkali ketika ia diputusin si doi, sebab ia memiliki mata keranjang. Sekali jatuh hati sama cewek, tiga darinya dapatkan. Bagi penulis tidak terjadi masalah bila mendapatkan restu dari pasanganan, tetapi sejauh ini tidak ada seorang cewek yang mau di dua.
                Seorang pacar atau kekasih pujaan bisa merespon kenginan bersama, tidak semerta-merta dalam wakatu  sekejap perempuan langsung mengatakan ‘ya’, kecuali perempuan terkena hipnosis. Bila dalam kondisi normal perenpuan akan mempertimbangkan kebernaran atau ketulusannya. Artinya perempuan tak hanya sekedar melihat siapa yang telah jatuh hati padanya, tetapi melihat apa akan terjadi kedepan. Pola pikir yang dibangun tak hanya sekedar nafsu yang mengalir kepermukaan, setidaknya ada kepekaan realitas sebelum mengamini pernyataan seorang laki-laki. Telah mafhum semua yang ada di bumi ini adalah hasil hukum kausalitas yang diberikan sang khaliq, tak wajar bila nanti kita menyesal dengan perbuatan yang selama ini diperbuat tidak sesuai dengan hukum kausalitas. Perbuatan yang baik akan bergandengan dengan perbuatan jelek. Keduanya ada turunan-turunan tersendiri menyesuaikan dengan hukum asalnya. Sementara dalam persolan cinta, kita telah tau bahwa hal tersebut halal dilakukan, halal mencintai siapa saja. Namun jika kehalalan itu bercampur dengan  perkara haram, maka hasilnya akan tertap haram. Sekali lagi mencintai seseorang itu butuh waktu untuk mengkorek-korek kebenaran dan kepantian, jika anda mencintai seseorang jangan tergesa-gesa dan gegabah untuk merespon untuk menjadikan pasangan anda. Bagi kaum perempuan jangan terlalu panjang memjawab kepastian sebab kaum laki-laki tidak selalu tahan menunggu berlama-lama. Sebab cinta adalah perasaan bukan dari alasan.
Untuk kamu
Yang paham akan hakikat cinta.

0 Response to " Memaknai Cinta dalam perspektif sahabat"

Posting Komentar